Suara Tanpa Sekat

“Tal, will we meet again?

“entahlah, tanyakan saja pada sang waktu ;)”.

Talia membalikkan pandangannya seraya pergi meninggalkan keheningan malam yang menyelimuti kota. Perlahan ku lihat sosoknya yang mulai menjauh, dan akhirnya menghilang. Ya, ini adalah pertemuan terakhirku dengan Talia, sebelum akhirnya aku harus melakukan perjalanan waktu untuk kembali ke dunia nyataku. Malam ini terasa hening sekali, bahkan hiruk pikuk suasana taman kotapun seolah – olah tak mampu mengusikku. Aku masih terduduk di bangku taman kota, menatap langit dengan milyaran bintang yang terurai. Sejenak kuhela nafasku. memejamkan mata, hingga membuatku flashback tentang masa indah, dengan Talia.

*****

Bandara

“Mba, sorry ini KTP-nya ketinggalan tadi”,

“Oh, makasi ya mas”,

“Sama – sama mba :)”

…..

“Mau ke Derawan juga ya mba?” , aku mencoba memecah keheningan.

“Iya mas, eh kok tau sih?”

“Hehe, maaf ya mba, tadi suaranya kenceng pas nelpon, jadinya ga sengaja nguping”

“Oalah, hahaha iya gpp mas, iya pengen liburan nih, bosen sama rutinitas, masnya mau ke Derawan juga?”

“Iya, saya juga lagi jenuh aja, butuh refreshing, haha, tapi nyampe sini malah pesawatnya delay karena serangan virus”

“Mau jalan – jalan disini dulu ga? Kebetulan aku orang sini, mungkin aku bisa ajak kamu keliling kota ini :)”

“Hah? Seriusan mba? Cowo mba marah ga nanti?”

“Haelah, tenang aja, aku single kok. And…. ga usah panggil mba lah ya, kita seumuran aja kyknya, hahaha. Ya udah, aku balik dulu ya, ga bisa lama – lama nih disini”

“Hehe, oke hati – hati ya mba, eh maksudnya, emm, oh ya namamu siapa? Aku lupa nanya dari tadi”

“Namaku Talia, salam kenal ya.” , Talia langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman yang langsung kubalas dengan menjabat tangannya.

“Aku Irky, salam kenal ya Tal :)”

“Iya, di dekat bandara ini ada hotel, sementara kamu nginep disana aja, besok aku bakal temuin kamu di hotel ya, nanti ku ajak jalan2 ;)”

“Okay” , Talia melepas genggaman tangannya sembari langsung pergi dari bandara.

Talia, 28 Tahun, Balikpapan. Sedikit banyak aku sudah mengetahui identitasnya, benar yang ia katakan bahwa kami seumuran, hanya selisih ia setahun lebih tua dariku. Oke, kalian ga usah heran kenapa aku tahu duluan. Bukankah sudah jelas sejak awal aku memegang KTP-nya yang tertinggal di counter check-in. #haha. Oh shit, saking asyiknya bercengkerama, aku sampai lupa meminta nomor hpnya.

*****

Beautiful Lie

“Kok makanmu dikit banget? Makan lagilah Ky” , Talia terus memaksaku untuk makan, padahal aku sangat sadar kapasitas perutku tak lagi dapat menampung banyaknya makanan.

“Sumpah ga kuat Tal, bungkus aja deh ini” ,  aku menghela nafas sambil memegang perut memberikan isyarat bahwa sudah tak kuat lagi untuk makan.

“Beneran? Kamu ga lagi sakit kan? Tumben loh kamu makannya dikit banget selama disini”

“Iya, aman aja Tal”

Kalau saja kamu tahu Tal, cuma ada 2 fase dimana aku makannya sedikit. Pertama, fase ketika aku sedang stress. Kedua, fase ketika aku sedang bahagia. Tentu dalam kondisi ini fase pertama bukanlah alasannya. Ya, aku sedang bahagia Tal, kamu harusnya tahu ini. Tapi tak masalah, lebih baik kamu ga pernah tahu, supaya garis waktu ini tak pernah kacau adanya. Maaf ya, aku berbohong.

*****

Portalia

“Gimana? udah siap belum?”

“Entahlah, pasti bakal kangen sih sama suasana disini, tentang keramaiannya, bahkan tentang keheningan malamnya” , aku mulai tertunduk lesu, bagaimana tidak, ketika kau sadar waktu tak lagi berpihak padamu pasti dalam otakmu telah tercipta sederet to do list yang ingin kau lakukan untuk menciptakan sebuah memori. Memori yang akan kau ingat dikemudian hari. Dan malam ini, ada sedikit penyesalan dalam benakku. Tentang aku yang selama ini selalu menyiakan waktu.

” :’) jadi ikutan sedih, tetap semangat ya, kamu udah tahu cara kerja alat itu, kalau nanti sudah bisa diperbaiki kamu bisa melintasi waktu lagi”

“Well, I hope I can fix it” , dan aku tiba – tiba saja menjadi speechless.

” Ya udah, aku balik dulu ya, tetap semangat 🙂 ”

*****

Kubuka perlahan mataku dan kembali menghela nafas namun kali ini diiringi dengan seutas senyum. Ku berjalan ke arah parkiran motor dan pergi meninggalkan taman kota yang menjadi saksi portal dunia paralel terbuka untuk yang terakhir kalinya.

 

Leave a Reply