TOLERANSI DALAM SEBUAH LUKISAN

Belakangan ini ramai diperbincangkan tentang penggerebekan satpol PP terhadap salah satu warung makan di daerah Serang, Banten. Penggerebekan ini tidak lain dikarenakan warung ini buka di siang hari ketika bulan puasa. Well, meski telah diatur dalam perda, namun telah diklarifikasi di kemudian hari bahwa tindakan Satpol PP itulah yang lebay.

Toleransi

Setelah peristiwa iu akhirnya ada banyak tanggapan dari netizen, ada yang memberi sumbangan ada pula yang membandingkan 1 hari : 30 hari : 52 hari. Oke saya ga akan ikut ribut – ribut membahas dan membanding – bandingkan perda tersebut. Karena kalau bahas itu terus kapan majunya bangsa kita ini? #halah. Sejatinya, inti dari permasalahan ini adalah sebuah toleransi. Indonesia sebenarnya adalah bangsa yang religious, terlihat dari banyaknya akun – akun pada sosial media buatan ‘Wahyudi’ yang setiap hari membahas tentang agama. Namun sayangnya kelakuan yang ‘religius’ tersebut tidak disertai dengan sikap toleransi.

Ngeributin Hal Beginian? Penting?

PERDA

Menurut buku PPKN jaman saya SD dulu, toleransi adalah perilaku terbuka dan menghargai segala perbedaan yang ada. Perbedaan yang dimaksud bisa perbedaan keyakinan ataupun adat istiadat. Indonesia adalah negara yang unik dengan beragam adat budaya yang tersebar. namun pada prakteknya sendiri, menerapkan toleransi tak semudah mengucapkan apa yang tertulis dalam buku PPKn tersebut. Selalu akan ada seseorang yang memaksakan kehendak berlandaskan Agama. Terkadang menganggap Agamanya paling benar dan Agama lain tidak benar.

Kalangan ini bukan hanya berasal dari orang yang kurang pendidikan saja, bahkan orang yang berpendidikan tinggi pun banyak yang tak bisa menerapkan sebuah sikap toleransi. Mungkin memang penguasaan terhadap ilmu agamanya tinggi. Tapi bukan berarti harus memaksakan negara mengikuti apa yang kalian pikirkan.

Sederhananya begini saja. Pernahkah kalian melihat sebuah lukisan? Pernahkah kalian merasa kagum dan terpesona melihat sebuah lukisan? Jika iya, apa yang sekiranya membuat kalian kagum pada lukisan tersebut? Desain? Warna? Atau ada factor lain? Jika demikian mari kita telaah kembali, lukisan tercipta dari goresan – goresan tinta seorang pelukis yang mengkombinasikan warna dan grafik – grafik menjadi sebuah mahakarya yang sedap dipandang mata. Nah, jika kalian mampu menikmati sebuah lukisan karena perbedaan warna, mengapa malah ribut masalah kehidupan karena perbedaan keyakinan? Kalian bisa menerima perbedaan warna yang terdapat pada lukisan, tapi tidak bisa menerima perbedaan keyakinan dan kultur budaya pada kehidupan sehari – hari.

Nah makanya, belajarlah toleransi dari sebuah lukisan, tetap indah dilihat meski banyak perbedaan (warna) yang menyelimutinya.

Leave a Reply