Rindu Senja Di Pantai Soka

Sore itu saya beranjak pergi dari sekolah, bukan menuju rumah, tapi ke pantai untuk sekedar melepas kepenatan seusai UN. Seperti biasa debur ombak dan lembutnya pasir Pantai Soka mengiringi langkah saya. kehangatan Sang Surya yang perlahan tenggelampun menyelimuti saya yang tengah sendiri. Maka mulailah saya merenung di atas pasir hitam sembari mengingat – ingat bahwa masa SMA akan segera berakhir. Kesunyian Pantai Soka memang sejenak mampu membuat saya tertidur dengan tenang sambil memandangi langit sore, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota pantai ini memang cocok untuk mereka – mereka yang sedang ingin menikmat kesendirian.

***

Sore semakin sore tiba – tiba saja kamu datang menghampiri. Saya tak menyangka dirimu juga akan singgah di pantai ini. Memang saya tahu jalur menuju rumahmu juga melewati pantai ini, tapi mengapa tak langsung ke rumah? #AhSudahlah mungkin kamu memang mau melepas kepenatan juga. Sama seperti saya. Maka berlanjutlah kami berjalan menuju pelaminan sepanjang pantai sambil membicarakan masa depan dengan bahasa – bahasa penuh drama ala remaja labil. Saya hanya menjadi pendengar setiamu, mendengarkan curahan hatimu dan merangkum apa yang ada di dalam benakmu. Tak masalah, bagi saya mendengar cerita dan semangatmu dalam meraih mimpi adalah kepuasan tersendiri bagi saya.

***

Senja telah mencapai masa puncaknya dan Sang Surya mulai tampak memerah. tidurlah kami dihamparan pasir hitam menatap matahari dan membiarkan tubuh kami dibasahi oleh biasan ombak. Kami sama – sama terdiam hingga akhirnya kamu berbicara “Selama nomor handphone ku masih kamu simpan kita masih tetap bisa saling kontak kok” sambil menampakkan Nokia E63 yang sedang keren – kerennya dimasa itu. Luar biasa, kata – katamu yang singkat, padat dan biasa – biasa saja ini mampu menjadi penyulut semangat tatkala hati sedang gelisah. Serasa ingin menyudahi pertemuan yang tak disengaja ini dan menutup senjakala dengan manis, kami pun saling berpaling muka menatap satu sama lain. Wajah kami semakin dekat hingga akhirnya biasan ombak yang sedikit keras membasahi wajah kami. Konsentrasi pecah, kami membersihkan wajah masing – masing dan membuka mata. Ah Sialan! Ternyata dari tadi semua ini hanya mimpi.

Leave a Reply