Sebuah Tanda (?)

Tidur larut malam di hari jumat dan bangun siang di hari sabtu adalah suatu rutinitas. Bagiku itu adalah hari yang sangat produktif, ide banyak bermunculan dan membuat hari lebih produktif, membuat cover, merangkai codingan, banyak yang bisa dilakukan. Tapi… tidak untuk hari ini.

Ada satu hal yang tidak perlu tapi selalu terpikirkan. Aku tidak tau bahwa ada hal – hal ‘sensitif’ yang tidak bisa dijadikan bahan candaan. Dan fatalnya akibat ketidaktahuan itu semua ini terjadi.

“Move on itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Jadi? Ya, sekarang aku sedang tidak percaya diri”

Mungkin komunikasi baik dan pertemanan yang sudah lama terjalin membuatku tidak bisa membiarkan ini terjadi begitu saja. Ya! Padahal cuma pertemanan lho, tapi sampe segininya. #whygitu

Keresahan ini membuatku flashback mengingat apa saja yang terjadi pada tahun – tahun sebelumnya. Yang paling ku ingat adalah persis sehari sebelum semua ini terjadi, kamu banyak bercerita tentang kehidupanmu yang akan memasuki jenjang yang lebih serius. Ya, waktu itu aku dan kamu yang belum menjadi kita berbicara dan bercanda lepas. Tapi entah kenapa hanya berselang sehari, komunikasi itu tak lagi tercipta. (Pokoknya semua gara – gara rambut).

Banyak usaha yang ku lakukan hanya untuk sekedar mencairkan suasana kembali. Tapi hingga tulisan ini diterbitkan belum ada hasil yang terlihat. Aku (hampir) menyerah. Seperti kehilangan gairah untuk berjuang, hingga akhirnya terlintas di dalam pikiran. Apakah ini sebuah tanda?

Ya, sebuah tanda untuk menyuruhku berhenti berjuang. Posisiku saat ini berat, jadi, biar aku saja (yang mengalaminya) #apasih.

Oke sebelum melebar terlalu jauh biar saya persempit dulu. Kamu adalah seorang gadis yang sudah memiliki pasangan. Bila kamu bertengkar dengan pasanganmu, kamu atau pasanganmu bisa langsung bercerita, mencari kesalahan lalu memperbaikinya. Simple seperti itu. Lalu bagaimana dengan saya? Ya ga bisa seperti itulah. Mana bisa aku memaksamu untuk sekedar memaafkan saya. Kita ga ada status, kalau kamu mendeklarasikan untuk menghentikan pertemanan tentu sangat bisa kamu lakukan.

Jika ini memang sebuah tanda peringatan untuk saya agar mengatur jarak denganmu. Saya masih belum siap. Saya masih ingin dekat denganmu sampai nanti aku melihatmu di pelaminan. Setelah itu? Silakan alam bereaksi dengan seharusnya. Setelah kamu di pelaminan nanti aku pastikan akan siap untuk tidak lagi mendengar kabarmu. Tapi sebelum itu terjadi, melalui pesan tersirat yang tak akan pernah tersampaikan ini. Saya memaksamu untuk bisa memaafkan saya. Dan berkomunikasi baik lagi sampai nanti undanganmu sudah saya terima.

 

Jangan bantu aku. Berat, kalian ga akan kuat. Biar aku saja

Saya hanya ingin anda tau. Saya Nyerah

Btw, ada yang mau nonton Dilan ga? Penasaran gw :v

Leave a Reply