Bercengkerama Dengan Senja

Aku sedikit lelah, seolah suasana seperti berada di dalam titik terjenuh dalam hidup ini, tak ada #temancerita apalagi #temantapimesra. Sore itu, sepulang kerja aku melarikan diri dengan beat merah kesayanganku. Tak seperti dulu aku berlari ke Pantai Soka dengan Supra X, kali ini Beat Merahlah yang menemani. Maka berlarilah aku ke daerah kampung baru, daerah tepi yang sangat cocok untuk melepas kepenatan duniawi apalagi hanya untuk sekedar menikmati senja.

Aku memarkirkan motor dan berjalan sendiri melintasi kayu – kayu dan rumah panggung yang ramai dipenuhi anak – anak bermain layangan. Di situ aku melihat betapa bahagianya anak – anak itu, berlari lepas dengan senyuman, seakan tak ada beban dalam hidupnya. Sungguh sangat kontras dengan aku, pemuda kesepian yang sedang diserang dari segala penjuru mata angin. Keberuntungan seperti tak berpihak pada aku.

Bersantai di tepian, kembali aku teringat masa lalu, masa – masa bahagia yang pernah aku lalui, masa dimana #temancerita itu benar – benar nyata. Namun waktu memang harus berlalu. Kini semua punya jalan hidupnya masing – masing. Sambil melihat senja, kembali aku tersenyum. Seperti aku melihat sosokmu berada tepat disampingku, mengajakku berbicara, berfoto dan mengabadikan setiap momen yang ada. Seketika aku tertawa merasakan seakan sosokmu benar – benar ada, mengajakku bercanda sambil menikmati es buah ditengah temaram senja yang menghangatkan.

Bocah kecil pun melihatku layaknya orang gila, senyum – senyum sendiri sambil menatap senja. Tak apalah, setidaknya menikmati senja sendiri seperti ini sudah membuatku lega. Bisa melepas sedikit kepenatan dalam urusan pekerjaan. Akhirnya, aku berdiri sambil tersenyum lepas sembari berjalan pulang dan berharap esok kan lebih bahagia. Tentu dengan senyuman dan sedikit tetesan air mata.

Leave a Reply